Saat duduk di bangku SMP, aku bertekad untuk menjadi Athifa yang baru. Bukan lagi Athifa yang mundur duluan sebelum mencoba atau yang menangis ketika semua mata tertuju padanya. Di hari MPLS, aku memperhatikan sekali kakak-kakak OSIS yang tengah menerangkan organisasi dan ekskul di sekolah baruku itu. Pramuka, Paskibra, EFC (English Fun Club), dan Futsal. Untuk organisasinya hanya ada OSIS. Ya, kalian jangan berharap banyak lah sama SMP ku itu. Total murid di sana aja nggak sampai dua ratus anak. Karena aku merasa harus fasih berbahasa Inggris, masuklah EFC. Kalau Pramuka memang wajib untuk diikuti setiap murid. Dan kayanya kalau Pramuka nggak dibuat ekskul wajib, nggak akan ada yang mau daftar sih, including me mungkin (?)
Ekskul yang paling laris itu paskib dan EFC, walau di awal doang hypeningnya, lama-kelamaan kabur juga orang-orangnya. Salah satu pelakunya, ya aku sendiri, hehe. Aku keluar dari EFC setelah beberapa kali pertemuan, sementara keluar paskib saat kelas 8. Yah, bayangin aja nih, aku udah meluangkan waktuku sore hari sepulang sekolah untuk kegiatan yang aku rasa ternyata nggak efektif. "Oh, berarti paskib dan efc jelek gitu?" ABSOLUTELY NOT! Aku aja yang kurang cocok dengan cara mengajar pengajarnya waktu itu. Padahal salah satu yang menjadi goalsku di kelas 7 adalah menjadi pengurus paskib dan menjadi salah satu yang bisa diandelin kalau mereka butuh personil untuk lomba atau tampil saat upacara memperingati kemerdekaan Indonesia. Tapi aku nggak pernah menceritakan impianku yang ini ke siapapun. Sampai setelah lulus,temanku yang anak paskib baru tau dan kaget dengan ceritaku yang sebegitu inginnya masuk ke dalam pasukan lomba (pada saat itu).
My BIG goals yang sebenarnya adalah menjadi pengurus OSIS. Ada satu kakak kelas yang aku kagumi kepercayaan dirinya saat di depan banyak orang, caranya menyampaikan pendapat dengan kalimat yang sistematis, dan juga aktif berpatisipasi kegiatan di luar sekolah. Aku jadi berpikir, pasti akan banyak peluang-peluang yang terbuka untuk menunjukan "The New Athifa" jika aku menjadi bagian dari organisasi itu. Aku mulai menyiapkan diriku amat sangat matang untuk wawancara dan tes tertulis dari jauh-jauh hari. Mencari tahu pertanyaan-pertanyaan yang kira-kira akan keluar, menuliskannya di google doc, lalu aku print agar bisa dibaca saat jam sekolah. Aku mendownload sebuah aplikasi yang bisa berbicara sesuai dengan pertanyaan dan jawaban wawancara yang aku tempel di kolom yang tersedia. Menyetelnya di setiap kegiatan yang sedang kukerjakan, biar kalimat-kalimat itu nempel di otakku, atau sebutan orang-orang sekarang: "Brainwash". Aku meminta mamaku yang sedang menjalankan ibadah umroh untuk mendoakan agar aku terpilih OSIS. Di hari H, seketika semua yang mati-matian kuhapalkan hilang begitu saja. Sampai sesi wawancara selesai, mulutku tetap terkunci. Temanku bahkan ada yang menangis begitu ia beranjak keluar dari kelas. Sementara aku? Diam saja, sambil terus menyalahkan diri ini, kenapa aku diam saja tadi? Kenapa nggak ada satupun pertanyaan yang bisa aku jawab? Kenapa? KENAPA?
Akhirnya hari dimana nama-nama pengurus baru diumumkan tiba, dan ya, nggak ada namaku di sana. Walau aku sudah resmi gagal menjadi pengurus OSIS, bukan berarti perjalananku menjadi Athifa yang baru terhenti. Suatu hari, sekolahku mengadakan event peringatan hari apa gitu (maap lupa), dan setiap kelas harus menampilkan sesuatu, entah itu bernyanyi, menari, membaca puisi, dan lain-lain. Lalu Dita, teman SD ku, langsung mengatakan aku pernah ikut lomba puisi saat SD. Akhirnya wali kelasku menunjukku dengan salah satu temanku untuk tampil bersama, ia bernyanyi, dan aku membaca puisi. Dari situlah Ustadzah Niken—Guru Bahasa Indonesia melihat potensiku dalam membaca puisi. Aku diikutkan dua lomba puisi yang salah satunya aku berhasil meraih juara 3. Setelah Ustadzah Niken keluar, aku nggak lagi berpartisipasi dalam lomba puisi apapun. Karena pada dasarnya aku memang nggak benar-benar punya ketertarikan untuk menyelam di bidang itu.
![]() |
Dalam memperingati hari pahlawan, OSIS mengadakan lomba membuat film bertemakan perjuangan pahlawan Indonesia. Dita mengusulkan untuk mengangkat kisah Ratu Kalinyamat biar nggak pasaran, yang akhirnya disetujui satu kelas. Setelah mendapatkan tema yang fix, kami mendiskusikan pembagian peran. Lalu Quinsha menunjukku untuk menjadi Ratu Kalinyamat. Setelah berusaha mengelak beberapa kali, aku setuju untuk menjadi tokoh utama film ini. Walau agak takut juga aktingku mengecewakan. Dalam lubuk hati yang lebih dalam dari Palung Mariana, aku berterimakasih sekali sama teman-temanku yang sudah mempercayakan peran Ratu Kalinyamat ini padaku. Sudah lama sekali aku ingin menjadi aktris film (kecil-kecilan duluuu~) HAHAHAHAHA. Langsung nyabet juara 1 lohya, jangan main-main kalian sama aktris underrated kaya aku :p Oiya, aku nggak akan pernah lupa, betapa emosinya satu kelas waktu Ayu, Shakira, dan Zhafira boongin kami kalah telak yang otomatis piala bergilir itu akan berpindah tangan T-T
Nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba diumumin bakal ada wawancara regenerasi Dewan Galang, aku langsung DEG! Nggak ada persiapan sama sekali woi? Bahkan aku udah nangis duluan sebelum wawancara (LEBAY BANGET JUJUR) 😭 pas Dita dan Maulida cerita karena mereka calon pratama putri jadi diwawancarai lebih dulu. Aku urutan ketiga kalau nggak salah, tapi pas giliranku, ternyata aku LANCAR BANGET JAWABNYA. Padahal aku udah siap mental banget menerima nasib gagalku dari awal yang kedua kali loh... Tiap kali jawabanku disanggah sama kakak DG itu, aku selalu bisa menskakmat dia balik. Yang kalau dipikir-pikir sangat berkebalikan ya dengan diriku saat wawancara OSIS 😀
Dua minggu kemudian aku berangkat ke Jakarta untuk melaksanakan final LS2N (Lomba Sastra Siswa Nasional) Kaget kan kalian? Apalagi aku. Berawal dari Pak Eri—Guru Bahasa Indonesia yang menggantikan Ustadzah Niken itu tiba-tiba memintaku untuk mengikuti lomba ini. Jujur aja aku merasa takut, sudah lamaaaaaa sekali aku nggak menulis cerpen. Pertanyaannya, kenapa Pak Eri memilihku? Apa karena Mama seorang penulis jadi otomatis anaknya pun dianggap mampu melakukannya? Tapi kesempatan ini belum tentu bakal datang lagi, akhirnya aku terima deh tawaran itu. Walau mengerjakannya dengan ngos-ngosan juga hehehe. Aku nggak berharap apapun, tiba-tiba Mama dapat ucapan selamat dari Mama Quinsha karena anaknya ini lolos jadi finalis. Alhamdulillah. Aku bertemu langsung dengan teman-teman dari Sabang sampai Merauke. Tapi rasanya ada penyesalan juga karena aku nggak banyak bergaul saat di sana dengan alasan "MALU". Padahal semua yang berada di sana sama-sama tidak mengenal satu sama lain, kenapa aku harus malu coba? Qodarulllah, aku gagal di babak final ini, tapi yang beneran nggak ekspek adalah seluruh peserta mendapatkan uang saku ytta lah nominalnya berapa. Yang jelas aku langsung beli HP baru di bulan setelahnya :D Jujur aku malu banget sih, aku ngerasa ngecewain teman-teman dan guru-guruku. Ditambah lagi DIPASANG BALIHO MUKAKU SEGEDE GABAN di depan sekolah 😭
Pas lagi sendirian di kamar hotel, aku membaca ulang cerita yang udah aku kumpulkan dengan berderai air mata karena merasa tulisanku jelek. Aku dapat kabar baik dari Dita bahwa aku TERPILIH MENJADI DEWAN GALANG! Timingnya bener-bener pas banget. Disaat aku merasa sedih, Allah langsung menggantikannya dengan rasa bahagia yang banget banget. BAHKAN, dari wawancara itu juga yang membawaku diminta untuk menjadi CALON WAKIL KETUA OSIS. WOI? Aku cuma minta dijadikan pengurus OSIS biasa, tapi Allah malah memberiku kesempatan untuk hampir berada di jabatan yang lebih tinggi dari itu. Namun setelah diskusi panjang dengan diriku sendiri dan minta saran Mama, aku memutuskan untuk menolak, karena suatu alasan yang adalah pokoknya 😙 Akhirnya aku berada di sekbid sastra dan budaya. Tentu tetap melewati proses yang sama seperti yang lainnya. Bukan tiba-tiba udah dapat tempat aja ya. Aku jadi teringat, pada saat mendaftar OSIS kelas 7 itu aku sedang ada masalah dengan salah satu kakak OSIS karena suatu alasanlah. Apakah Allah sengaja menunda mengabulkan doaku agar nggak terjadi perseteruan antara aku dan kakak OSIS itu? Agar aku merasa nyaman berada di dalam sana dan dapat melakukan tugas-tugasku sebagai OSIS dengan tenang?
Perjalananku di masa SMP-ku masih panjaaaaaaangg sekali, kalian boleh ngepoin Instagramku @athifaapsrni ya! Di sana aku menceritakan lebih lengkap suatu momen yang telah kulalui. Jujur, akun instagramku udah kaya galeri masa SMP-ku😁 Di sini aku baru menceritakan potongan-potongan saja, tapi panjang banget kan? Apalagi kalau lengkap, udah bisa terbit satu buku kali. Judulnya "Kebangkitan Si Cupu Athifa di SMP".
Teruntuk ustad dan ustadzah, serta teman-teman yang selalu kurindukan. Terima kasih ya, sudah menemani perjalananku menjadi Athifa yang baru!





Tidak ada komentar:
Posting Komentar