Sedih rasanya jika teringat diriku kala SD. Gadis kecil yang riang dan senang bicara ini perlahan kehilangan rasa kepercayaan dirinya.
Dulu aku punya seorang teman yang bisa dibilang dekat. Dari luar, pertemanan kami terlihat begitu hangat. Duduk sebangku, ke mana-mana bersama, dan ibunya juga sangat baik padaku. Namun yang tidak diketahui orang-orang, aku menjalaninya dengan penuh ketakutan dan tekanan.
Apapun yang aku lakukan, perkataan yang aku ucapkan selalu saja salah di matanya. Kalau ada sesuatu dariku yang membuatnya marah, dia bakal menghasut teman-teman untuk menjauhiku. Dari situlah aku mulai takut mengekspresikan diriku. Aku memilih untuk lebih banyak diam dan menuruti apapun yang ia minta. Setiap pagi tiba, aku selalu mencari-cari alasan agar tidak sekolah. Entah karena nggak enak badan atau sekedar bilang ingin belajar di rumah saja. Kalau dihitung-hitung pasti udah banyak banget total bolosku. Tapi paling yang di tulis di rapot 3 hari izin dan 3 hari sakit wkwkwkwk.
Saat kelas 4 SD guruku memintaku untuk mengikuti lomba membaca puisi. Beliau bilang aku ada bakat di sana. Jujur aja aku ngerasa heran pas guruku ngomong begitu. Karena selama hampir empat tahun duduk di bangku SD aku bukanlah murid yang menonjol gitu. Aku bahkan nggak pernah kepikiran kalau aku punya bakat. Yaa mungkin guru punya sudut pandang lain. Mama memaksaku untuk ikut, yaudah deh aku nurut aja. Singkat cerita, mulai dari latihan hingga pengumpulan video membaca puisi berjalan dengan lancar. Kebetulan saat itu sedang pandemi jadi lomba dilaksanakan secara online. Hari pengumuman tiba, dan ternyata aku belum berhasil meraih juara. Tapi aku masuk peringkat 11 dari 57 peserta, hasil yang cukup membanggakan untuk perdana.
Suatu hari aku dipilih lagi untuk menampilkan puisi di sebuah event sekolah yang dilaksakan secara daring. Aku ingat banget syutingnya di kelas lantai 1. Di depan sudah banyak anak-anak tapak suci yang juga menunggu giliran. Aku langsung menghentikan bacaan puisiku saat aku ngerasa jendela dipenuhi mata-mata yang menyaksikanku dari luar! Aku yang kurang nyaman berusaha jelasin ke guru-guru di sana dan menutup tirai. Tapi tetap saja masih ada celah-celah kecil yang terlihat. Ditambah lagi guruku udah nyuruh aku buat segera dimulai, aku semakin gelisah. Tiba-tiba.. air mata mulai mengalir dari sudut mataku. Iya, aku nangis. Aku terlalu takut kalau salah satu dari mereka ada yang mengomentariku. Guru-guruku yang sadar langsung segera mengusir teman-teman di luar.
Butuh waktu dua tahun untuk menyadarkanku bahwa selama ini bukan kesempatan yang kurang datang padaku. Justru aku yang terlalu sering membiarkan rasa takut mengambil keputusan. Makanya itu saat duduk di bangku SMP aku bertekad untuk nggak lagi mengulangi penyesalan yang sama. Aku harus mengejar ketertinggalanku di SD. Lomba baca puisi antar kelas? Gas. Lomba baca puisi di luar sekolah? Gas. Aku juga berada di dua organisasi sekaligus. OSIS dan Dewan Penggalang. Menjadi MC di acara-acara sekolah dan menjelaskan materi kepramukaan di depan adik-adik dengan suara lantang sudah menjadi makananku sehari-hari. Tapi jangan kalian pikir rasa takutku hilang begitu saja ya, aku sudah lebih dulu bergelut dengan pikiranku sendiri jauh sebelum hari H.
Meski belum pulih seratus persen, masih ada rasa takut, masih sering muncul rasa tidak pede, tapi aku terus berusaha mengalahkan. Karena orang hebat bukan orang yang tidak pernah gemetar, tapi yang gemetar sambil tetap maju.
Sama seperti saat membuat artikel ini, sungguh aku sebenarnya tidak percaya diri, aku merasa tulisanku jelek dan tidak layak baca. Tapi mamaku bilang, semua tulisan bagus pernah jelek pada masanya. Memang itu yang harus dilalui. Semoga suatu hari akan ada berita baik dari segala usaha dan kerja kerasku.
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026″
Tidak ada komentar:
Posting Komentar